Perwujudan maya dari sebuah komunitas nyata, yang ingin menelusur keindahan dunia melalui karya budayanya.

maart 26, 2006

Saya Tak Pernah Pergi - 4

- INTRODUCING: ARTU -


“Apapun yang kamu kerjakan, apalah artinya semua laranganku, karena kau yang menempuh.”

Bapak memang tidak pernah mentitahkan agar anak-anaknya berpegang teguh pada prinsip hidup yang dia jalani selama lebih dari enam dekade. Bapak selalu memberikan ruang gerak yang cukup pada para buah hatinya, karena Bapak tidak ingin dianggap sebagai orangtua ketinggalan jaman yang selalu memagari keinginan anak-anaknya.

Cuma ada satu hal yang selalu mengganggu pikiran saya selama ini. Apakah Bapak tahu apa yang dikerjakan anak-anaknya? Apakah Bapak tahu bahwa jalan hidup putranya berbeda dengan orang kebanyakan?

Dengan segala pertanyaan tak terjawab itulah, maka saya hanya bisa berasumsi bahwa Bapak tahu. Ilmu Bapak terlampau tinggi untuk diraih anak-anaknya, meskipun tak pernah ada piagam atau ijazah yang terpampang di sudut rumah. Rupanya Bapak memang generasi pertama pria sensitif yang belakangan ini banyak muncul dimana-mana.

“Eddy Silitonga penyanyinya, judul lagunya “Mama”!”

“Fantastis sekali! Nilai seratus untuk Ibu Mulyadi!”

Gosh! Semoga Aan tidak menangkap ekspresi kosong tadi! Duh, hampir saja saya lupa! Terima kasih, Gun. Tidak sia-sia semalaman kamu memilih bergadang untuk memperbaiki teleprompter itu daripada menemani saya.

“Hadirin sekalian, tiba saatnya kita di penghujung acara, dan jangan lupa! Sepekan kita berpisah, dalam sepekan kita akan bersua lagi. Tetap “Dendangkan Nada” dan sampai jumpa!”

Inilah rasanya hidup melacur, harus berani malu menurunkan derajat intelektualitas demi bertahan hidup. Seorang lulusan Ilmu Komunikasi Massa dari Melbourne macam Ian tentu bisa lebih merasa terhormat dengan bekerja yang lebih membutuhkan otak daripada hanya menjadi seorang copywriter acara kuis bulanan ini. Tapi apa daya? Otak tidak berarti uang, dan uang ada di acara yang tidak pakai otak.

Jujur saja, saya bangga dengan pekerjaan ini. Satu episode berarti satu hari penuh syuting, itu juga masih ada enam hari lain. Satu kali siaran langsung talk-show tengah malam, saya masih punya seluruh pagi dan siang untuk diri saya. Sisa lima setengah hari. Seluruh jadwal pemotretan majalah paling lama cuma perlu waktu tujuh jam. Sisa lima hari. Seluruh biaya kerja dua hari dalam seminggu itu jauh melampaui apa yang Bapak bisa dapatkan dalam setahun.

Ketika saya sudah merasa hidup lebih dari cukup, maka saya bisa berkata kepada diri sendiri bahwa saya tidak perlu apa-apa lagi, karena yang saya butuhkan adalah siapa. Bukan siapa yang mendampingi saya saat ini atau nanti, tapi saya butuh kepastian akan siapa saya sebenarnya, dibalik tebalnya lapisan kulit muka hasil operasi plastik bulan lalu. Sudah ratusan orang menyajikan hipotesa mereka ketika saya mendekap bahu sambil mengecup punggung mereka, tapi saya memilih tidak mendengar, karena saya sibuk menjelajah balutan kulit dan tulang bergejolak itu.

Lalu lintas manusia-manusia sesaat yang tidak pernah saya tampik kehadirannya, karena saya tidak bisa hidup tanpa mereka. Atau paling tidak, dengan kata-kata manis mereka yang mengembalikan derajat saya yang harus diobral di saat lampu-lampu spotlight menerkam saya dua kali seminggu.

Mungkin saya tidak perlu tahu siapa saya sebenarnya. Mungkin hanya Bapak yang tahu, dan hebatnya dia bawa sampai ke peristirahatan terakhirnya di petak tanah liat. Mungkin waktu itu Bapak terlampau sakit dengan segala perhatian saya yang tidak pernah dia dapat ketika dia bernafas. Mungkin sekarang saya harus hidup dengan identitas yang saya mau.

Nama saya Artu, dan inilah hidup.

maart 25, 2006

Saya Tak Pernah Pergi - 3

- SANG PENGECUT-

Seperti apa kira-kira wajah dunia bila sedang tertawa?

Seperti ini…. (senyumnya terukir)

Seperti apa kira-kira wajah dunia bila sedang berduka?

Seperti ini…. (senyumnya kembali terukir)

Dan seperti apa wajah dunia di kala ia murka?

Seperti ini… (masih dengan senyum yang sama)

Haha!! Dunia pasti sudah gila!! Atau mungkin ia sedang mati rasa. Mungkin ia hanya ingin jujur…. Jujur pada dirinya sendiri… Terpaksa menjadi jujur… Dipaksa menjadi jujur….

Setidaknya dunia bukan pengecut….

Tapi yang kuhadapi sekarang adalah seorang pengecut. Pengecut yang sedang limbung, pengecut nan bingung. Pengecut tanpa ekspresi yang tampak begitu menyedihkan.Sang pengecut mencoba tersenyum… dan tampak begitu kikuk. Sang pengecut mencoba sekuat tenaga terisak untuk kemudian malah berakhir terbahak-bahak. Kasihan… ia bukan hanya seorang pengecut, jiwanya sudah sedikit terganggu. Diselipkannya sebatang rokok di sudut bibirnya. Tapi pemantik api itu malah dipergunakan sebagai mainan, dan ia merasa sedikit terhibur: untuk melihat api yang menyala, padam, menyala, padam, menyala, padam…menyala…. Membakar sebatang rokok yang ajal hidupnya sebentar lagi akan tiba. Ajalnya yang akan berakhir sebagai hembusan asap di udara.

Yang kuhadapi sekarang tetap seorang pengecut. Pengecut yang sedang menghembuskan ajal sang rokok di udara. Aku tak pernah suka melihatnya membunuh dirinya sendiri dengan cara perlahan-lahan seperti ini.

“Karena malam ini aku ingin mati…”
(katanya tersenyum padaku kini)

“Karena aku berhak terhadap mati hidupnya raga dan jiwaku saat ini”
(katanya terkekeh padaku lagi)

Terserah… terserah apa katamu…Aku tidak ingin berselisih. Aku tidak ingin bertengkar malam ini.

“Apa kau lelah? Lelah melihatku seperti ini?”

Kau yang seharusnya lelah! Tak bosan kau dengan ritual depresimu ini? Sampai kapan ingin kau wartakan kesedihanmu pada semesta?

“Karena aku memang sedang BERDUKA!”

Hah? Apa? Aku tak salah dengar?! Wah, duka macam apa lagi yang kini kau derita hah?

“Dukaku yang abadi… dukaku yang kekal…”

Simpan segala prosa dan argumenmu! Simpan untuk esok hari!!

“Kau tak akan pernah mengerti…”

Untuk apa? Aku tak punya rasa… aku tak punya indera….

“Dan terkutuklah engkau karenanya…”

Kau hanya iri… iri pada ke-tidak-ingin-tahu-an-ku…

“Aku iri pada pada ke-sejatian-mu…”

(hening yang tercipta)

“Mungkin aku pengecut… mungkin aku pemberani…”

(lalu kami bertatapan… lamaaaaaaa sekali….)

Sang rokok telah menemui ajalnya. Rohnya telah pergi melayang di udara. Menyisakan sang pengecut yang kini terpana.

“Dunia yang kini tengah mengajakku bercanda…tapi kurasa candanya sungguh tak lucu lagi…”

Hanya karena kau lupa caranya tertawa? Itu bukan salah dunia!

“Mungkin nadi canda-ku sudah sekarat…”

Mungkin nadi canda-mu hanya sedang beristirahat.

“Tapi kau tahu apa yang paling kurindukan?”

Untuk kembali bercanda dengan dunia?

“Mereka…”

Maksudnmu?

“Mereka yang kurindukan…”

M-e-r-e-k-a… maksudmu?

“… hanya mereka yang mampu mengusir roh pengecutku…”

Tapi di mana mereka sekarang?

“Seandainya aku tahu….”

Jadi…. Inilah duka kekalmu? Inilah sedih sejatimu?

“Mereka yang telah pergi….”

Tapi mereka pasti akan kembali….mereka akan kembali untukmu….

“Aku tak mengerti… hanya ini….”

Diberikannya secarik kertas yang digenggamnya sedari tadi padaku. Sebuah pesan singkat yang tak dapat kumengerti:

“Aku ada di sini… Aku tak pernah pergi… Mungkin tak terlihat… Mungkin tak ingin terlihat…”

Pesan singkat ini sungguh terdengar janggal. Dan diberikannya secarik kertas lain yang tampak serupa berisi pesan lain yang terdengar lebih janggal:

“Ku rasa aku melihatnya… Hari ini… di tengah hiruk pikuk… Adalah dia yang tampak begitu kosong… Aku tak mampu menggapainya… ia mungkin terlihat… inginkah ia terlihat?”

(lalu kami bertatapan lagi…. lebih lama…)

Dan di wajah sang pengecut kutemukan kecemasanku. Di wajah sang pengecut kutemukan ketakutanku. Di wajah sang pengecut kutemukan kebingunganku.

Mengapa? Mengapa ia hadir begitu dekat dalam sukmaku? Mengapa ia tampak begitu hidup dalam sanubariku.

Kusentuh wajah lelahnya… dan di sana… adalah segala keletihanku…

Kami serupa…

Tapi aku bukan pengecut…

Aku… pemberani yang pengecut…
yang tengah bercermin…
mendapati …
dirinya…
sendiri…

maart 24, 2006

Saya Tak Pernah Pergi - 2

- THE WARNED -

Aku memandangnya dari kejauhan. Bukan karena gadis cantik itu mengingatkanku pada seseorang. Namun karena gadis itu terlihat terbebani oleh sesuatu.

Siang ini panas bukan main, dan matahari tidak memberi iba pada ruang warnet murah meriah yang atapnya dari seng ini. Tapi meskipun panas ruangan ini sudah mengalahkan oven, dan koneksi internetnya selambat kuda nil kekenyangan, warnet ini tetap laris oleh anak-anak sekolahan berkantong cekak tapi butuh meng-approve testimonial Friendster-nya.

Tapi gadis yang duduk di pojokan itu sepertinya tidak datang untuk mengecek Friendster. Sejak tadi ia duduk di depan komputer, menerawang kosong ke layar. Tangan kirinya tertadah keyboard yang tidak diketiknya, tangan kanannya mengetuk-ngetuk dengan pensil yang tidak dipakainya menulis. Hampir dua jam dia duduk di sana, tak terlihat melakukan apa-apa. Hanya menatap kosong dan mengetuk pensil.

Mata kosongnya bercerita semua. Matanya yang sepi. Mungkin merasa sesak? sakit? Atau bahkan menangis?

Aku ingin sekedar menyapanya, barangkali itu mampu meringankan. Tapi siapalah aku; Siapa diapun aku tak tahu. Meski aku tahu aku mengenal gadis ini. Tapi bukan di sini. Bukan dalam hidup ini. Itu semua sudah berlalu.

Untuk saat ini, aku bahkan berharap ia tak melihatku...

maart 22, 2006

Saya Tak Pernah Pergi

Saya tak pernah pergi kok. Saya selalu ada disini. Mungkin tak terlihat. Mungkin tak ingin dilihat.

Setiap saya membaca guratan-guratan kalian, saudaraku di komunitas ini, saya hanya bisa berasa. Kadang tersenyum. Kadang pedih. Kadang sedih. Kadang rindu.

Saya tak pernah pergi. Hanya setiap melihat catatan gudang ide kita ini, saya tersumbat. Otak saya mengabut. Jari jemari saya berat untuk berloncatan di keyboard ini. Sejak terakhir kita bertemu saudaraku, sudah terlalu banyak yang terjadi, dan juga terlalu banyak yang tidak terjadi.

Benar saya tak pernah pergi. Saya tak pergi. Hati saya yang pergi. Dan rongga hitam yang di tinggalkannya menggigiti dada saya. Sesak. Sakit. Bahkan saya menangis. Saya menangis saudaraku. Entah karena sakit, entah karena kehilangan, entah karena amarah. Bahkan saya menangis. Seorang saya.

Jadi saudaraku, saya tak pernah pergi. Saya selalu disini. Mungkin tak terlihat. Mungkin tak ingin dilihat.

maart 18, 2006

Yang Pergi Akan Kembali

Mengapa komunitas maya ini seakan berhenti?

Paul Valery mungkin punya jawabnya, ketika ia berkata:
"A poem is never finished. It is only abandoned."

Komunitas ini tidak berakhir. Dia hanya ditinggal pergi penghuninya, arwah-arwahnya, yang akan tetap hidup meski raga berhenti berkata dan bekerja. Gentayanganlah mereka kini, namun bila sudah waktunya kembali, nantinya akan kembali. Tunggu saja.