Artu.
Part IV.
Hujan Di Malam Sabtu.
Siapakah Artu?
Artu adalah sesosok manusia yang sudah lama tidak pernah menanyakan hal itu pada dirinya sendiri.
Artu adalah seorang pria yang tidak perlu lagi diperjelas keberadaannya, maupun pilihan hidup yang dia jalani.
Tunggu!
Inikah pilihan hidupnya?
Susah sekali ah!
Apa sebenarnya pilihan hidupku?
"Aaaaeehhhhmmmmm ..."
Tik tuk tik tuk tik tuk tik tuk ...
"Aaaarrttuuuuuuu ..."
Tik tuk tik tuk tik tuk tik ...
Buzz!
Semua orang butuh ketenangan hidup, tidak terkecuali bagi seorang pelacur yang malu mengakui dirinya sebagai pelacur.
Siapakah Artu sesungguhnya?
Sungguh suatu pertanyaan memalukan yang pernah diajukan seseorang kepada dirinya sendiri, bukankah begitu? Kalau saja pertanyaan itu semudah bertanya "Apakah yang Artu inginkan dalam hidup?", mungkin saja aku bisa berkelit dalam gelimang jawaban berkedok materi, yang tentu saja akan sangat mudah menjadi pancingan seorang salesman asuransi atau para penganut paham religi MLM.
Dan malam ini, dalam temaram rintik hujan bersahutan dengan suara jengkerik yang beradu dengan tarikan nafas di atas cangkir kopi hitam, aku hendak mengadu.
Bahwa dalam kenihilistikanku, aku bernafas diatas deru yang menggelegar dalam jantung, dan memompa adrenalinku untuk berpacu dengan waktu. Diatas semua waktu.
Bahwa dalam kegamanganku, aku masih mereguk tetes-tetes kemunafikan yang menyegarkan.
Bahwa dalam kecanduanku akan hidup, aku memburu segala asa yang patut dihisap, lalu aku campakkan dalam sampah.
Bahwa dalam kebingunganku, aku masih ingin tahu, akankah ada akhir semua ini.
"Aaarrtttuuuuuu ..."
Aku terpekur.
Hujan Di Malam Sabtu.
Siapakah Artu?
Artu adalah sesosok manusia yang sudah lama tidak pernah menanyakan hal itu pada dirinya sendiri.
Artu adalah seorang pria yang tidak perlu lagi diperjelas keberadaannya, maupun pilihan hidup yang dia jalani.
Tunggu!
Inikah pilihan hidupnya?
Susah sekali ah!
Apa sebenarnya pilihan hidupku?
"Aaaaeehhhhmmmmm ..."
Tik tuk tik tuk tik tuk tik tuk ...
"Aaaarrttuuuuuuu ..."
Tik tuk tik tuk tik tuk tik ...
Buzz!
Semua orang butuh ketenangan hidup, tidak terkecuali bagi seorang pelacur yang malu mengakui dirinya sebagai pelacur.
Siapakah Artu sesungguhnya?
Sungguh suatu pertanyaan memalukan yang pernah diajukan seseorang kepada dirinya sendiri, bukankah begitu? Kalau saja pertanyaan itu semudah bertanya "Apakah yang Artu inginkan dalam hidup?", mungkin saja aku bisa berkelit dalam gelimang jawaban berkedok materi, yang tentu saja akan sangat mudah menjadi pancingan seorang salesman asuransi atau para penganut paham religi MLM.
Dan malam ini, dalam temaram rintik hujan bersahutan dengan suara jengkerik yang beradu dengan tarikan nafas di atas cangkir kopi hitam, aku hendak mengadu.
Bahwa dalam kenihilistikanku, aku bernafas diatas deru yang menggelegar dalam jantung, dan memompa adrenalinku untuk berpacu dengan waktu. Diatas semua waktu.
Bahwa dalam kegamanganku, aku masih mereguk tetes-tetes kemunafikan yang menyegarkan.
Bahwa dalam kecanduanku akan hidup, aku memburu segala asa yang patut dihisap, lalu aku campakkan dalam sampah.
Bahwa dalam kebingunganku, aku masih ingin tahu, akankah ada akhir semua ini.
"Aaarrtttuuuuuu ..."
Aku terpekur.
