Perwujudan maya dari sebuah komunitas nyata, yang ingin menelusur keindahan dunia melalui karya budayanya.

maart 24, 2006

Saya Tak Pernah Pergi - 2

- THE WARNED -

Aku memandangnya dari kejauhan. Bukan karena gadis cantik itu mengingatkanku pada seseorang. Namun karena gadis itu terlihat terbebani oleh sesuatu.

Siang ini panas bukan main, dan matahari tidak memberi iba pada ruang warnet murah meriah yang atapnya dari seng ini. Tapi meskipun panas ruangan ini sudah mengalahkan oven, dan koneksi internetnya selambat kuda nil kekenyangan, warnet ini tetap laris oleh anak-anak sekolahan berkantong cekak tapi butuh meng-approve testimonial Friendster-nya.

Tapi gadis yang duduk di pojokan itu sepertinya tidak datang untuk mengecek Friendster. Sejak tadi ia duduk di depan komputer, menerawang kosong ke layar. Tangan kirinya tertadah keyboard yang tidak diketiknya, tangan kanannya mengetuk-ngetuk dengan pensil yang tidak dipakainya menulis. Hampir dua jam dia duduk di sana, tak terlihat melakukan apa-apa. Hanya menatap kosong dan mengetuk pensil.

Mata kosongnya bercerita semua. Matanya yang sepi. Mungkin merasa sesak? sakit? Atau bahkan menangis?

Aku ingin sekedar menyapanya, barangkali itu mampu meringankan. Tapi siapalah aku; Siapa diapun aku tak tahu. Meski aku tahu aku mengenal gadis ini. Tapi bukan di sini. Bukan dalam hidup ini. Itu semua sudah berlalu.

Untuk saat ini, aku bahkan berharap ia tak melihatku...