Perwujudan maya dari sebuah komunitas nyata, yang ingin menelusur keindahan dunia melalui karya budayanya.

mei 09, 2006

Saya Tak Pernah Pergi - 7

"Tik… tok… tes…tik…tes… tok…"

Hujan di malam hari…
Dan aku sendiri…
Dan aku benci saat ini…

Mencoba mengingat sebuah rasa yang sejenak lalu hadir di hati. Nyeri…Nyeri yang kini berganti dengki. Atau mungkin hanya iri… iri pada rintik hujan yang tak perlu perlu perduli. Tak perlu perduli pada semesta sialan ini. Dan inilah aku… yang tak pernah berhenti mengutuki diri. Bukan, bukan aku sendiri… ini karena engkau…bukan hanya engkau… ini kalian!
Brengsek!! Dahulu aku bukan manusia seperti ini. Haha, mungkin dahulu aku bukan manusia sama sekali. Mungkin aku hanya manusia jadi-jadian. Yang pasti aku tak pernah merasa menjadi seorang manusia.

Sampai ia hadir…
Sampai mereka hadir…

(Saat itu aku belumlah menjadi manusia… )

Hujan…
Sama seperti malam-malam sebelumnya…

Tapi hujan di malam ini sedikit berbeda…
Banci! Antara deras dan tidak… Dan bisa-bisanya orang lain menamai hujan seperti ini hujan romantis… Romantis jidatmu! Segala sesuatu yang tidak jelas, antara ada dan tiada, antara ingin dan tidak kok bisa-bisanya dicap romantis?! Dasar goblog!

“Tapi apa salahnya si hujan sampai kau omeli?”

Suara itu bagaikan geledek di tengah-tengah romantisme hujan tak jelas ini. Bukan karena menggelegar yang tak tahu tempat, tapi karena keluar dari mulut seorang…. Manusia?

“Mengapa tega kau mengomeli si hujan?” tanyanya lagi.

Aku tertegun… Bagaimana mahluk sialan ini bisa mendadak muncul dan tiba-tiba hadir di sini. Dan gilanya lagi, darimana ia tahu aku sedang mengutuki hujan sialan ini?

“Amarahmu itu ngga baik untuk kesehatan teman…apalagi yang cuma sebatas mangkel terpendam di hati… Kau tak perlu sumpah serapah untuk mengumbar segala kebencianmu pada semesta…Angkaramu mengerikan teman…”

Gila! Mahluk apa pula ini? Ahli nujum kelas wahid? Siapa dia sembarangan menuduhku ada masalah dengan semesta?!

“Tak perlu ahli ranjau untuk mendeteksi bom murkamu itu…”

Hahaha, lelucon dari mana ini?! Ada orang gila yang tiba-tiba datang memberikan ceramah di hadapanku…

“Tik.. tok… tik… tok… tik.. tok…”

Apa itu? Suara bom waktu murkaku?

“SALAH!! Itu lebih mirip suara hujan! Coba dengarkan baik-baik… tik… tok… tik… tok.. tik.. tok!”

GEBLEG!! Hujan itu bunyinya tik… tik… tik… tik….

“Tik.. tok.. tik… tok….”

TIK! TIK! TIK!

“Tiiiiikkkk… tooooook…..”

TTIIIIIIIKKKK! TIIIIIIIKKKKK!!!

“Sssssssssssttttt…… jangan berisik!! Coba dengarkan baik-baik….”

APA? DENGAR APA??? DASAR GILA!! Sudah kubilang hujan itu bunyinya… tik, tik, tik, bukan tik, tok, tik, tok…. Mana mungkin ada hujan yang bunyinya tik, tok, tik, tok….

…. Tik … tok… tik… tok….tik… tok…

Sinting! Apa pendengaranku salah… kenapa hujan sok romantis bin sialan ini bunyinya memang tik… tok… tik… tok….
Ada yang salah dengan kupingku? Ada yang salah dengan si hujankah? Ada yang salah dengan mahluk gila ini??? TOOOLOOOONNNGGGG… Toooooollll……

“SSSSSSSSSSTTTTTTTTTTTTTTTT!!! Bisa diam sebentar ga sih??!!”

Tes… tes… tes… tes… tik… tes… tok… tes… tik… tok… tes… tik… tik…tes…

“Indah kan?”

Perlahan-lahan kupejamkan kedua mataku. Mencoba mendengarkan suara hujan yang ternyata tak melulu monoton ber-tik-tik-tik…

Ada ritme yang menarik, ada gaung yang bergema, ada simfoni yang indah… dan adal alam yang bersenandung merdu…

Brengsek… mengapa begitu indah? Mengapa begitu bergairah?

“Kamu tahu teman, sumber dari segala angkaramu itu di sini…” katanya menunjuk ke pelipisku… “Satu lagi… di sini…” giliran ubun-ubunku yang jadi sasaran telunjuknya.

“Dan cara terbaik melepas itu semua adalah…bercinta dengan hujan…”

“Seperti ini…”

Tak sampai dua detik, mahluk gila dari antah berantah ini pun ber-kecipak-kecipuk di antara genangan air.Tertawa-tawa senang sendiri…

Aku tersenyum…
Sudah lama aku tak berjumpa dengan seorang manusia…

Manusia seutuhnya…

Dan hari itu pun aku berkenalan dengan seorang manusia…
(Katanya) namanya pengelana…

mei 05, 2006

Saya Tak Pernah Pergi - 6 -

-HUJAN-



Jakarta. Dan hujan deras. Langit hitam dengan garis cahaya yang bermunculan. Protes akan hitamnya.

Aku masih berdiri di halte ini. Menunggu bis yang tidak kunjung datang. Tidak kunjung datang? Atau aku yang belum siap menaikinya?

Aku berdiri memandang jalan yang tepinya mulai menampung air-air liar yang tidak mau mengalir ke kali-kali kecil. Kali-kali kecil yang kesusahan menjinakkan liuk-liuk dan cepatnya aliran air pekat.

Kututup mataku. Bau hujan. Tanah basah. Kurasakan orang-orang berlarian mengisi tempat-tempat kosong dikanan kiriku. Suara bis berhenti sebentar, kadang tak cukup bagi penumpangnya untuk naik atau turun. Lompatan-lompatan, umpatan-umpatan. Bis ku, apa kau sudah datang? Atau bahkan sudah pergi lagi? Atau aku tak ingin tahu dan terus menutup mataku?

Dalam gelap mataku yang tertutup, aku berlari menjawab panggilan hujan. Menjauhi pekikan-pekikan dan panggilan-panggilan dari belakangku. Tidak peduli pada suara rem angin bis-bis besar yang meraung-raung terpompa berlebihan. Aku berlari.Aku berlari dalam hujan. Airnya yang dingin menggoda hatiku. Anginnya menembus membelai tulang-tulangku. Hujani aku! Basahi Aku! Cuci aku! Buang segala kepedihan dan kekosongan ini! Dan hujan yang semakin lebat mengguyurku.

Aku berhenti tiba-tiba. Tak peduli akan gaung pekikan-pekikan dan panggilan-panggilan dalam kepalaku. Aku ingin melihatnya. Aku ingin melihatnya! Sekali lagi. Kumohon. Bila mataku terbuka, biarlah aku bisa melihatnya. Sudah terlalu banyak yang terjadi, dan juga sudah terlalu banyak yang tidak terjadi. Kumohon! Aku berhenti tiba-tiba dari lariku dan menengadah. Perih air menusuk mataku. Dan tak kupedulikan gaung pekikan-pekikan dan panggilan-panggilan dalam kepalaku. Aku tersenyum.

Dengan tangan gemetar kudorong pintu didepanku sampai terbuka. Aku berdiri terdiam. Air dari pakaianku yang basah menetesi lantai. Ruangan sederhana beratap seng ini biasanya panas dan padat. Tapi kali ini hujan dan atap seng menciptakan musik yang menghasilkan aura lain di ruangan ini. Panasnya berubah menjadi dingin. Dan riuh padatnya berubah menjadi sunyi dan sepi.

“Kehujanan, mbak?”

Kutolehkan kepalaku kearah sumber suara. Aku menatapnya dengan pandangan kosong. Satu detik, tiga detik, lima detik. Orang yang selalu berada disini. Rambut gondrongnya terkuncir rapi. Dia tampak berbeda. Tapi senyumnya sama. Bahkan kamu juga berubah, kataku dalam hati. Sudah banyak yang terjadi, dan juga sudah banyak yang tidak terjadi. Ini juga telah berlaku padamu, pasti.

Aku harus menyampaikan ini padanya! Pada kalian saudaraku! Aku tidak ingin membuang-buang waktu! Aku ingin berbagi dengan kalian! Apapun yang terjadi, ini perlu disampaikan! Aku kira aku telah menemukannya! Dan aku ingin kalian mengetahuinya. Secepatnya!

Pandanganku berpindah ke kursi yang biasa kududuki. Kosong.

“Wah akhirnya ada yang datang. Gara-gara hujan baru satu komputer yang terisi. Komputer yang biasa kosong kok Mbak……”

Aku berjalan menuju kursi kosong itu tanpa memandangnya dan tanpa berkata sepatah katapun.

“…… Mas Selebriti masih siaran sepertinya, jadi nggak perlu rebutan dengan dia. Silakan kalau mau dipakai.”

Saudaraku, aku tidak pernah pergi. Aku selalu disini. Mungkin tak terlihat. Mungkin tak ingin dilihat.

Berkali-kali keinginan untuk menulis itu ada. Tapi jemari ini tak pernah sanggup membentuk kata untukmu. Yang ada hanya gelisah menatap cerita dari duniamu. Mungkin aku sama pengecutnya denganmu. Tapi kali ini aku harus memindahkannya kedalam tulisan untukmu. Supaya kamu tahu. Supaya kamu bisa menyampaikannya pada saudara-saudaraku lain yang mencari. Kosong adalah awal dan akhir. Meski sudah terlalu banyak yang terjadi, dan juga sudah terlalu banyak yang tidak terjadi. Pada akhirnya kosong adalah awal dan akhir. Atau harusnya kukatakan pada awalnya kosong adalah awal dan akhir?


Pensilku terjatuh terdorong sikuku yang jemarinya bernapsu menekan tuts-tuts keyboard. Aku mengambilnya. Tanpa sengaja pandanganku bertemu dengan seseorang di seberang ruangan. Dia menolehkan wajah acuh seolah tak terjadi apa-apa, menutupi kekagetannya. Aku tahu dia mengamatiku. Seseorang lagi kah? Dalam pencarian? Sekarang dia tampak berkonsentrasi penuh menatap layar monitornya.

Suara hujan deras beradu dengan atap seng semakin keras. Hanya tertinggal pria dengan jidat sedikit berkerut berkonsentrasi penuh menatap screen saver doraemon di monitornya dan siul penjaga warnet yang dengan semangat membawakan teh hangat gratis, meski akhirnya menatap kecewa pada sebuah kursi kosong.

mei 01, 2006

Saya Tak Pernah Pergi - 5

- DI WARNET -

“Malem, mas Artu. Baru pulang syuting ya? Keliatan lesu gitu. Pasti belum makan juga ‘kan?! Makan dulu aja mas di warung Bu Yayuk. Nanti saya panggil deh kalo ada yang kosong ya.”

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum, tak mampu berkata apa-apa. Si Jawir ini memang selalu ramah dengan semua orang, tak peduli mereka siapa. Kecuali anak-anak sekolah swasta sebelah yang selalu ramai menyerbu warnet nya di siang hari, yang ketika ditagih hutang pembayaran selalu bilang lupa.

Biarpun begitu, si Jawir tidak pernah benar-benar marah dengan mereka. Si Jawir tahu, mereka butuh hiburan setelah stress berkutat dengan pelajaran di kelas. Kadang si Jawir juga membiarkan mereka mengambil makanan dan minuman sendiri, asal warnet tetap rapi dan bersih. Si Jawir tidak pernah perduli berapa jam mereka duduk di depan komputer. Walaupun begitu, si Jawir juga suka mengingatkan mereka supaya lekas pulang bila azan Maghrib akan berkumandang.

Tapi akhir-akhir ini ada sedikit yang berbeda dari si Jawir. Rambut panjangnya yang dulu berantakan, sekarang rapi terkuncir. Brewoknya yang sering membuat pengunjung warnet takut, sekarang sudah licin dan klimis. Tak jarang saya menggodanya kalau dia terlihat manis.

“Ah, mas Artu bisa aja!”

Sambil terkekeh, dia tidak pernah menganggap serius godaanku. Yang dia anggap serius adalah setiap perkataan dari seorang gadis yang akhir-akhir ini sering datang ke warnet ini, dan duduk di meja langgananku. Kalau saja waktu itu tidak kulihat muka si Jawir yang mendadak ceria ketika si gadis datang, pasti sudah kudamprat habis-habisan si perempuan tak tahu sopan santun itu. Apa dia tidak tahu kalau meja itu sudah sekian tahun dikenal sebagai meja-Artu?

Tapi biarlah. Yang penting si Jawir sekarang hidup tenang tanpa masalah. Yang penting si Jawir sekarang terlihat bahagia. Yang penting si Jawir sekarang sudah bisa melupakan keadaannya sekarang. Yang penting si Jawir tidak pernah lagi mempertanyakan soal kenapa saya selalu memberinya uang ekstra. Yang penting si Jawir tidak pernah tahu bahwa saya tahu banyak tentang kehidupannya. Yang penting ...

“Lho mas, disuruh makan koq malah ngelamun? Ya udah, itu mejanya mas Artu dah aku beresin. Tinggal nunggu komputernya di-restart”.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum lagi. Entah sampai kapan aku bisa tersenyum dengan si Jawir seperti malam ini. Entahlah...

maart 26, 2006

Saya Tak Pernah Pergi - 4

- INTRODUCING: ARTU -


“Apapun yang kamu kerjakan, apalah artinya semua laranganku, karena kau yang menempuh.”

Bapak memang tidak pernah mentitahkan agar anak-anaknya berpegang teguh pada prinsip hidup yang dia jalani selama lebih dari enam dekade. Bapak selalu memberikan ruang gerak yang cukup pada para buah hatinya, karena Bapak tidak ingin dianggap sebagai orangtua ketinggalan jaman yang selalu memagari keinginan anak-anaknya.

Cuma ada satu hal yang selalu mengganggu pikiran saya selama ini. Apakah Bapak tahu apa yang dikerjakan anak-anaknya? Apakah Bapak tahu bahwa jalan hidup putranya berbeda dengan orang kebanyakan?

Dengan segala pertanyaan tak terjawab itulah, maka saya hanya bisa berasumsi bahwa Bapak tahu. Ilmu Bapak terlampau tinggi untuk diraih anak-anaknya, meskipun tak pernah ada piagam atau ijazah yang terpampang di sudut rumah. Rupanya Bapak memang generasi pertama pria sensitif yang belakangan ini banyak muncul dimana-mana.

“Eddy Silitonga penyanyinya, judul lagunya “Mama”!”

“Fantastis sekali! Nilai seratus untuk Ibu Mulyadi!”

Gosh! Semoga Aan tidak menangkap ekspresi kosong tadi! Duh, hampir saja saya lupa! Terima kasih, Gun. Tidak sia-sia semalaman kamu memilih bergadang untuk memperbaiki teleprompter itu daripada menemani saya.

“Hadirin sekalian, tiba saatnya kita di penghujung acara, dan jangan lupa! Sepekan kita berpisah, dalam sepekan kita akan bersua lagi. Tetap “Dendangkan Nada” dan sampai jumpa!”

Inilah rasanya hidup melacur, harus berani malu menurunkan derajat intelektualitas demi bertahan hidup. Seorang lulusan Ilmu Komunikasi Massa dari Melbourne macam Ian tentu bisa lebih merasa terhormat dengan bekerja yang lebih membutuhkan otak daripada hanya menjadi seorang copywriter acara kuis bulanan ini. Tapi apa daya? Otak tidak berarti uang, dan uang ada di acara yang tidak pakai otak.

Jujur saja, saya bangga dengan pekerjaan ini. Satu episode berarti satu hari penuh syuting, itu juga masih ada enam hari lain. Satu kali siaran langsung talk-show tengah malam, saya masih punya seluruh pagi dan siang untuk diri saya. Sisa lima setengah hari. Seluruh jadwal pemotretan majalah paling lama cuma perlu waktu tujuh jam. Sisa lima hari. Seluruh biaya kerja dua hari dalam seminggu itu jauh melampaui apa yang Bapak bisa dapatkan dalam setahun.

Ketika saya sudah merasa hidup lebih dari cukup, maka saya bisa berkata kepada diri sendiri bahwa saya tidak perlu apa-apa lagi, karena yang saya butuhkan adalah siapa. Bukan siapa yang mendampingi saya saat ini atau nanti, tapi saya butuh kepastian akan siapa saya sebenarnya, dibalik tebalnya lapisan kulit muka hasil operasi plastik bulan lalu. Sudah ratusan orang menyajikan hipotesa mereka ketika saya mendekap bahu sambil mengecup punggung mereka, tapi saya memilih tidak mendengar, karena saya sibuk menjelajah balutan kulit dan tulang bergejolak itu.

Lalu lintas manusia-manusia sesaat yang tidak pernah saya tampik kehadirannya, karena saya tidak bisa hidup tanpa mereka. Atau paling tidak, dengan kata-kata manis mereka yang mengembalikan derajat saya yang harus diobral di saat lampu-lampu spotlight menerkam saya dua kali seminggu.

Mungkin saya tidak perlu tahu siapa saya sebenarnya. Mungkin hanya Bapak yang tahu, dan hebatnya dia bawa sampai ke peristirahatan terakhirnya di petak tanah liat. Mungkin waktu itu Bapak terlampau sakit dengan segala perhatian saya yang tidak pernah dia dapat ketika dia bernafas. Mungkin sekarang saya harus hidup dengan identitas yang saya mau.

Nama saya Artu, dan inilah hidup.

maart 25, 2006

Saya Tak Pernah Pergi - 3

- SANG PENGECUT-

Seperti apa kira-kira wajah dunia bila sedang tertawa?

Seperti ini…. (senyumnya terukir)

Seperti apa kira-kira wajah dunia bila sedang berduka?

Seperti ini…. (senyumnya kembali terukir)

Dan seperti apa wajah dunia di kala ia murka?

Seperti ini… (masih dengan senyum yang sama)

Haha!! Dunia pasti sudah gila!! Atau mungkin ia sedang mati rasa. Mungkin ia hanya ingin jujur…. Jujur pada dirinya sendiri… Terpaksa menjadi jujur… Dipaksa menjadi jujur….

Setidaknya dunia bukan pengecut….

Tapi yang kuhadapi sekarang adalah seorang pengecut. Pengecut yang sedang limbung, pengecut nan bingung. Pengecut tanpa ekspresi yang tampak begitu menyedihkan.Sang pengecut mencoba tersenyum… dan tampak begitu kikuk. Sang pengecut mencoba sekuat tenaga terisak untuk kemudian malah berakhir terbahak-bahak. Kasihan… ia bukan hanya seorang pengecut, jiwanya sudah sedikit terganggu. Diselipkannya sebatang rokok di sudut bibirnya. Tapi pemantik api itu malah dipergunakan sebagai mainan, dan ia merasa sedikit terhibur: untuk melihat api yang menyala, padam, menyala, padam, menyala, padam…menyala…. Membakar sebatang rokok yang ajal hidupnya sebentar lagi akan tiba. Ajalnya yang akan berakhir sebagai hembusan asap di udara.

Yang kuhadapi sekarang tetap seorang pengecut. Pengecut yang sedang menghembuskan ajal sang rokok di udara. Aku tak pernah suka melihatnya membunuh dirinya sendiri dengan cara perlahan-lahan seperti ini.

“Karena malam ini aku ingin mati…”
(katanya tersenyum padaku kini)

“Karena aku berhak terhadap mati hidupnya raga dan jiwaku saat ini”
(katanya terkekeh padaku lagi)

Terserah… terserah apa katamu…Aku tidak ingin berselisih. Aku tidak ingin bertengkar malam ini.

“Apa kau lelah? Lelah melihatku seperti ini?”

Kau yang seharusnya lelah! Tak bosan kau dengan ritual depresimu ini? Sampai kapan ingin kau wartakan kesedihanmu pada semesta?

“Karena aku memang sedang BERDUKA!”

Hah? Apa? Aku tak salah dengar?! Wah, duka macam apa lagi yang kini kau derita hah?

“Dukaku yang abadi… dukaku yang kekal…”

Simpan segala prosa dan argumenmu! Simpan untuk esok hari!!

“Kau tak akan pernah mengerti…”

Untuk apa? Aku tak punya rasa… aku tak punya indera….

“Dan terkutuklah engkau karenanya…”

Kau hanya iri… iri pada ke-tidak-ingin-tahu-an-ku…

“Aku iri pada pada ke-sejatian-mu…”

(hening yang tercipta)

“Mungkin aku pengecut… mungkin aku pemberani…”

(lalu kami bertatapan… lamaaaaaaa sekali….)

Sang rokok telah menemui ajalnya. Rohnya telah pergi melayang di udara. Menyisakan sang pengecut yang kini terpana.

“Dunia yang kini tengah mengajakku bercanda…tapi kurasa candanya sungguh tak lucu lagi…”

Hanya karena kau lupa caranya tertawa? Itu bukan salah dunia!

“Mungkin nadi canda-ku sudah sekarat…”

Mungkin nadi canda-mu hanya sedang beristirahat.

“Tapi kau tahu apa yang paling kurindukan?”

Untuk kembali bercanda dengan dunia?

“Mereka…”

Maksudnmu?

“Mereka yang kurindukan…”

M-e-r-e-k-a… maksudmu?

“… hanya mereka yang mampu mengusir roh pengecutku…”

Tapi di mana mereka sekarang?

“Seandainya aku tahu….”

Jadi…. Inilah duka kekalmu? Inilah sedih sejatimu?

“Mereka yang telah pergi….”

Tapi mereka pasti akan kembali….mereka akan kembali untukmu….

“Aku tak mengerti… hanya ini….”

Diberikannya secarik kertas yang digenggamnya sedari tadi padaku. Sebuah pesan singkat yang tak dapat kumengerti:

“Aku ada di sini… Aku tak pernah pergi… Mungkin tak terlihat… Mungkin tak ingin terlihat…”

Pesan singkat ini sungguh terdengar janggal. Dan diberikannya secarik kertas lain yang tampak serupa berisi pesan lain yang terdengar lebih janggal:

“Ku rasa aku melihatnya… Hari ini… di tengah hiruk pikuk… Adalah dia yang tampak begitu kosong… Aku tak mampu menggapainya… ia mungkin terlihat… inginkah ia terlihat?”

(lalu kami bertatapan lagi…. lebih lama…)

Dan di wajah sang pengecut kutemukan kecemasanku. Di wajah sang pengecut kutemukan ketakutanku. Di wajah sang pengecut kutemukan kebingunganku.

Mengapa? Mengapa ia hadir begitu dekat dalam sukmaku? Mengapa ia tampak begitu hidup dalam sanubariku.

Kusentuh wajah lelahnya… dan di sana… adalah segala keletihanku…

Kami serupa…

Tapi aku bukan pengecut…

Aku… pemberani yang pengecut…
yang tengah bercermin…
mendapati …
dirinya…
sendiri…