Perwujudan maya dari sebuah komunitas nyata, yang ingin menelusur keindahan dunia melalui karya budayanya.

mei 05, 2006

Saya Tak Pernah Pergi - 6 -

-HUJAN-



Jakarta. Dan hujan deras. Langit hitam dengan garis cahaya yang bermunculan. Protes akan hitamnya.

Aku masih berdiri di halte ini. Menunggu bis yang tidak kunjung datang. Tidak kunjung datang? Atau aku yang belum siap menaikinya?

Aku berdiri memandang jalan yang tepinya mulai menampung air-air liar yang tidak mau mengalir ke kali-kali kecil. Kali-kali kecil yang kesusahan menjinakkan liuk-liuk dan cepatnya aliran air pekat.

Kututup mataku. Bau hujan. Tanah basah. Kurasakan orang-orang berlarian mengisi tempat-tempat kosong dikanan kiriku. Suara bis berhenti sebentar, kadang tak cukup bagi penumpangnya untuk naik atau turun. Lompatan-lompatan, umpatan-umpatan. Bis ku, apa kau sudah datang? Atau bahkan sudah pergi lagi? Atau aku tak ingin tahu dan terus menutup mataku?

Dalam gelap mataku yang tertutup, aku berlari menjawab panggilan hujan. Menjauhi pekikan-pekikan dan panggilan-panggilan dari belakangku. Tidak peduli pada suara rem angin bis-bis besar yang meraung-raung terpompa berlebihan. Aku berlari.Aku berlari dalam hujan. Airnya yang dingin menggoda hatiku. Anginnya menembus membelai tulang-tulangku. Hujani aku! Basahi Aku! Cuci aku! Buang segala kepedihan dan kekosongan ini! Dan hujan yang semakin lebat mengguyurku.

Aku berhenti tiba-tiba. Tak peduli akan gaung pekikan-pekikan dan panggilan-panggilan dalam kepalaku. Aku ingin melihatnya. Aku ingin melihatnya! Sekali lagi. Kumohon. Bila mataku terbuka, biarlah aku bisa melihatnya. Sudah terlalu banyak yang terjadi, dan juga sudah terlalu banyak yang tidak terjadi. Kumohon! Aku berhenti tiba-tiba dari lariku dan menengadah. Perih air menusuk mataku. Dan tak kupedulikan gaung pekikan-pekikan dan panggilan-panggilan dalam kepalaku. Aku tersenyum.

Dengan tangan gemetar kudorong pintu didepanku sampai terbuka. Aku berdiri terdiam. Air dari pakaianku yang basah menetesi lantai. Ruangan sederhana beratap seng ini biasanya panas dan padat. Tapi kali ini hujan dan atap seng menciptakan musik yang menghasilkan aura lain di ruangan ini. Panasnya berubah menjadi dingin. Dan riuh padatnya berubah menjadi sunyi dan sepi.

“Kehujanan, mbak?”

Kutolehkan kepalaku kearah sumber suara. Aku menatapnya dengan pandangan kosong. Satu detik, tiga detik, lima detik. Orang yang selalu berada disini. Rambut gondrongnya terkuncir rapi. Dia tampak berbeda. Tapi senyumnya sama. Bahkan kamu juga berubah, kataku dalam hati. Sudah banyak yang terjadi, dan juga sudah banyak yang tidak terjadi. Ini juga telah berlaku padamu, pasti.

Aku harus menyampaikan ini padanya! Pada kalian saudaraku! Aku tidak ingin membuang-buang waktu! Aku ingin berbagi dengan kalian! Apapun yang terjadi, ini perlu disampaikan! Aku kira aku telah menemukannya! Dan aku ingin kalian mengetahuinya. Secepatnya!

Pandanganku berpindah ke kursi yang biasa kududuki. Kosong.

“Wah akhirnya ada yang datang. Gara-gara hujan baru satu komputer yang terisi. Komputer yang biasa kosong kok Mbak……”

Aku berjalan menuju kursi kosong itu tanpa memandangnya dan tanpa berkata sepatah katapun.

“…… Mas Selebriti masih siaran sepertinya, jadi nggak perlu rebutan dengan dia. Silakan kalau mau dipakai.”

Saudaraku, aku tidak pernah pergi. Aku selalu disini. Mungkin tak terlihat. Mungkin tak ingin dilihat.

Berkali-kali keinginan untuk menulis itu ada. Tapi jemari ini tak pernah sanggup membentuk kata untukmu. Yang ada hanya gelisah menatap cerita dari duniamu. Mungkin aku sama pengecutnya denganmu. Tapi kali ini aku harus memindahkannya kedalam tulisan untukmu. Supaya kamu tahu. Supaya kamu bisa menyampaikannya pada saudara-saudaraku lain yang mencari. Kosong adalah awal dan akhir. Meski sudah terlalu banyak yang terjadi, dan juga sudah terlalu banyak yang tidak terjadi. Pada akhirnya kosong adalah awal dan akhir. Atau harusnya kukatakan pada awalnya kosong adalah awal dan akhir?


Pensilku terjatuh terdorong sikuku yang jemarinya bernapsu menekan tuts-tuts keyboard. Aku mengambilnya. Tanpa sengaja pandanganku bertemu dengan seseorang di seberang ruangan. Dia menolehkan wajah acuh seolah tak terjadi apa-apa, menutupi kekagetannya. Aku tahu dia mengamatiku. Seseorang lagi kah? Dalam pencarian? Sekarang dia tampak berkonsentrasi penuh menatap layar monitornya.

Suara hujan deras beradu dengan atap seng semakin keras. Hanya tertinggal pria dengan jidat sedikit berkerut berkonsentrasi penuh menatap screen saver doraemon di monitornya dan siul penjaga warnet yang dengan semangat membawakan teh hangat gratis, meski akhirnya menatap kecewa pada sebuah kursi kosong.