Perwujudan maya dari sebuah komunitas nyata, yang ingin menelusur keindahan dunia melalui karya budayanya.

maart 25, 2006

Saya Tak Pernah Pergi - 3

- SANG PENGECUT-

Seperti apa kira-kira wajah dunia bila sedang tertawa?

Seperti ini…. (senyumnya terukir)

Seperti apa kira-kira wajah dunia bila sedang berduka?

Seperti ini…. (senyumnya kembali terukir)

Dan seperti apa wajah dunia di kala ia murka?

Seperti ini… (masih dengan senyum yang sama)

Haha!! Dunia pasti sudah gila!! Atau mungkin ia sedang mati rasa. Mungkin ia hanya ingin jujur…. Jujur pada dirinya sendiri… Terpaksa menjadi jujur… Dipaksa menjadi jujur….

Setidaknya dunia bukan pengecut….

Tapi yang kuhadapi sekarang adalah seorang pengecut. Pengecut yang sedang limbung, pengecut nan bingung. Pengecut tanpa ekspresi yang tampak begitu menyedihkan.Sang pengecut mencoba tersenyum… dan tampak begitu kikuk. Sang pengecut mencoba sekuat tenaga terisak untuk kemudian malah berakhir terbahak-bahak. Kasihan… ia bukan hanya seorang pengecut, jiwanya sudah sedikit terganggu. Diselipkannya sebatang rokok di sudut bibirnya. Tapi pemantik api itu malah dipergunakan sebagai mainan, dan ia merasa sedikit terhibur: untuk melihat api yang menyala, padam, menyala, padam, menyala, padam…menyala…. Membakar sebatang rokok yang ajal hidupnya sebentar lagi akan tiba. Ajalnya yang akan berakhir sebagai hembusan asap di udara.

Yang kuhadapi sekarang tetap seorang pengecut. Pengecut yang sedang menghembuskan ajal sang rokok di udara. Aku tak pernah suka melihatnya membunuh dirinya sendiri dengan cara perlahan-lahan seperti ini.

“Karena malam ini aku ingin mati…”
(katanya tersenyum padaku kini)

“Karena aku berhak terhadap mati hidupnya raga dan jiwaku saat ini”
(katanya terkekeh padaku lagi)

Terserah… terserah apa katamu…Aku tidak ingin berselisih. Aku tidak ingin bertengkar malam ini.

“Apa kau lelah? Lelah melihatku seperti ini?”

Kau yang seharusnya lelah! Tak bosan kau dengan ritual depresimu ini? Sampai kapan ingin kau wartakan kesedihanmu pada semesta?

“Karena aku memang sedang BERDUKA!”

Hah? Apa? Aku tak salah dengar?! Wah, duka macam apa lagi yang kini kau derita hah?

“Dukaku yang abadi… dukaku yang kekal…”

Simpan segala prosa dan argumenmu! Simpan untuk esok hari!!

“Kau tak akan pernah mengerti…”

Untuk apa? Aku tak punya rasa… aku tak punya indera….

“Dan terkutuklah engkau karenanya…”

Kau hanya iri… iri pada ke-tidak-ingin-tahu-an-ku…

“Aku iri pada pada ke-sejatian-mu…”

(hening yang tercipta)

“Mungkin aku pengecut… mungkin aku pemberani…”

(lalu kami bertatapan… lamaaaaaaa sekali….)

Sang rokok telah menemui ajalnya. Rohnya telah pergi melayang di udara. Menyisakan sang pengecut yang kini terpana.

“Dunia yang kini tengah mengajakku bercanda…tapi kurasa candanya sungguh tak lucu lagi…”

Hanya karena kau lupa caranya tertawa? Itu bukan salah dunia!

“Mungkin nadi canda-ku sudah sekarat…”

Mungkin nadi canda-mu hanya sedang beristirahat.

“Tapi kau tahu apa yang paling kurindukan?”

Untuk kembali bercanda dengan dunia?

“Mereka…”

Maksudnmu?

“Mereka yang kurindukan…”

M-e-r-e-k-a… maksudmu?

“… hanya mereka yang mampu mengusir roh pengecutku…”

Tapi di mana mereka sekarang?

“Seandainya aku tahu….”

Jadi…. Inilah duka kekalmu? Inilah sedih sejatimu?

“Mereka yang telah pergi….”

Tapi mereka pasti akan kembali….mereka akan kembali untukmu….

“Aku tak mengerti… hanya ini….”

Diberikannya secarik kertas yang digenggamnya sedari tadi padaku. Sebuah pesan singkat yang tak dapat kumengerti:

“Aku ada di sini… Aku tak pernah pergi… Mungkin tak terlihat… Mungkin tak ingin terlihat…”

Pesan singkat ini sungguh terdengar janggal. Dan diberikannya secarik kertas lain yang tampak serupa berisi pesan lain yang terdengar lebih janggal:

“Ku rasa aku melihatnya… Hari ini… di tengah hiruk pikuk… Adalah dia yang tampak begitu kosong… Aku tak mampu menggapainya… ia mungkin terlihat… inginkah ia terlihat?”

(lalu kami bertatapan lagi…. lebih lama…)

Dan di wajah sang pengecut kutemukan kecemasanku. Di wajah sang pengecut kutemukan ketakutanku. Di wajah sang pengecut kutemukan kebingunganku.

Mengapa? Mengapa ia hadir begitu dekat dalam sukmaku? Mengapa ia tampak begitu hidup dalam sanubariku.

Kusentuh wajah lelahnya… dan di sana… adalah segala keletihanku…

Kami serupa…

Tapi aku bukan pengecut…

Aku… pemberani yang pengecut…
yang tengah bercermin…
mendapati …
dirinya…
sendiri…

2 Comments:

Blogger Nauval Yazid said...

postingan ini akan terasa lebih lengkap seandainya kita memberikan gambar ite ngemut timun di fongseng yang memorable itu, untuk menggambarkan wajah dunia seperti terdeskripsikan :D

maart 25, 2006 7:22 p.m.  
Blogger iTe said...

kamu telah dengan suksesnya merusyak momen sayang...

maart 27, 2006 1:51 p.m.  

Een reactie posten

<< Home