Saya Tak Pernah Pergi - 4
- INTRODUCING: ARTU -
“Apapun yang kamu kerjakan, apalah artinya semua laranganku, karena kau yang menempuh.”
Bapak memang tidak pernah mentitahkan agar anak-anaknya berpegang teguh pada prinsip hidup yang dia jalani selama lebih dari enam dekade. Bapak selalu memberikan ruang gerak yang cukup pada para buah hatinya, karena Bapak tidak ingin dianggap sebagai orangtua ketinggalan jaman yang selalu memagari keinginan anak-anaknya.
Cuma ada satu hal yang selalu mengganggu pikiran saya selama ini. Apakah Bapak tahu apa yang dikerjakan anak-anaknya? Apakah Bapak tahu bahwa jalan hidup putranya berbeda dengan orang kebanyakan?
Dengan segala pertanyaan tak terjawab itulah, maka saya hanya bisa berasumsi bahwa Bapak tahu. Ilmu Bapak terlampau tinggi untuk diraih anak-anaknya, meskipun tak pernah ada piagam atau ijazah yang terpampang di sudut rumah. Rupanya Bapak memang generasi pertama pria sensitif yang belakangan ini banyak muncul dimana-mana.
“Eddy Silitonga penyanyinya, judul lagunya “Mama”!”
“Fantastis sekali! Nilai seratus untuk Ibu Mulyadi!”
Gosh! Semoga Aan tidak menangkap ekspresi kosong tadi! Duh, hampir saja saya lupa! Terima kasih, Gun. Tidak sia-sia semalaman kamu memilih bergadang untuk memperbaiki teleprompter itu daripada menemani saya.
“Hadirin sekalian, tiba saatnya kita di penghujung acara, dan jangan lupa! Sepekan kita berpisah, dalam sepekan kita akan bersua lagi. Tetap “Dendangkan Nada” dan sampai jumpa!”
Inilah rasanya hidup melacur, harus berani malu menurunkan derajat intelektualitas demi bertahan hidup. Seorang lulusan Ilmu Komunikasi Massa dari Melbourne macam Ian tentu bisa lebih merasa terhormat dengan bekerja yang lebih membutuhkan otak daripada hanya menjadi seorang copywriter acara kuis bulanan ini. Tapi apa daya? Otak tidak berarti uang, dan uang ada di acara yang tidak pakai otak.
Jujur saja, saya bangga dengan pekerjaan ini. Satu episode berarti satu hari penuh syuting, itu juga masih ada enam hari lain. Satu kali siaran langsung talk-show tengah malam, saya masih punya seluruh pagi dan siang untuk diri saya. Sisa lima setengah hari. Seluruh jadwal pemotretan majalah paling lama cuma perlu waktu tujuh jam. Sisa lima hari. Seluruh biaya kerja dua hari dalam seminggu itu jauh melampaui apa yang Bapak bisa dapatkan dalam setahun.
Ketika saya sudah merasa hidup lebih dari cukup, maka saya bisa berkata kepada diri sendiri bahwa saya tidak perlu apa-apa lagi, karena yang saya butuhkan adalah siapa. Bukan siapa yang mendampingi saya saat ini atau nanti, tapi saya butuh kepastian akan siapa saya sebenarnya, dibalik tebalnya lapisan kulit muka hasil operasi plastik bulan lalu. Sudah ratusan orang menyajikan hipotesa mereka ketika saya mendekap bahu sambil mengecup punggung mereka, tapi saya memilih tidak mendengar, karena saya sibuk menjelajah balutan kulit dan tulang bergejolak itu.
Lalu lintas manusia-manusia sesaat yang tidak pernah saya tampik kehadirannya, karena saya tidak bisa hidup tanpa mereka. Atau paling tidak, dengan kata-kata manis mereka yang mengembalikan derajat saya yang harus diobral di saat lampu-lampu spotlight menerkam saya dua kali seminggu.
Mungkin saya tidak perlu tahu siapa saya sebenarnya. Mungkin hanya Bapak yang tahu, dan hebatnya dia bawa sampai ke peristirahatan terakhirnya di petak tanah liat. Mungkin waktu itu Bapak terlampau sakit dengan segala perhatian saya yang tidak pernah dia dapat ketika dia bernafas. Mungkin sekarang saya harus hidup dengan identitas yang saya mau.
Nama saya Artu, dan inilah hidup.
“Apapun yang kamu kerjakan, apalah artinya semua laranganku, karena kau yang menempuh.”
Bapak memang tidak pernah mentitahkan agar anak-anaknya berpegang teguh pada prinsip hidup yang dia jalani selama lebih dari enam dekade. Bapak selalu memberikan ruang gerak yang cukup pada para buah hatinya, karena Bapak tidak ingin dianggap sebagai orangtua ketinggalan jaman yang selalu memagari keinginan anak-anaknya.
Cuma ada satu hal yang selalu mengganggu pikiran saya selama ini. Apakah Bapak tahu apa yang dikerjakan anak-anaknya? Apakah Bapak tahu bahwa jalan hidup putranya berbeda dengan orang kebanyakan?
Dengan segala pertanyaan tak terjawab itulah, maka saya hanya bisa berasumsi bahwa Bapak tahu. Ilmu Bapak terlampau tinggi untuk diraih anak-anaknya, meskipun tak pernah ada piagam atau ijazah yang terpampang di sudut rumah. Rupanya Bapak memang generasi pertama pria sensitif yang belakangan ini banyak muncul dimana-mana.
“Eddy Silitonga penyanyinya, judul lagunya “Mama”!”
“Fantastis sekali! Nilai seratus untuk Ibu Mulyadi!”
Gosh! Semoga Aan tidak menangkap ekspresi kosong tadi! Duh, hampir saja saya lupa! Terima kasih, Gun. Tidak sia-sia semalaman kamu memilih bergadang untuk memperbaiki teleprompter itu daripada menemani saya.
“Hadirin sekalian, tiba saatnya kita di penghujung acara, dan jangan lupa! Sepekan kita berpisah, dalam sepekan kita akan bersua lagi. Tetap “Dendangkan Nada” dan sampai jumpa!”
Inilah rasanya hidup melacur, harus berani malu menurunkan derajat intelektualitas demi bertahan hidup. Seorang lulusan Ilmu Komunikasi Massa dari Melbourne macam Ian tentu bisa lebih merasa terhormat dengan bekerja yang lebih membutuhkan otak daripada hanya menjadi seorang copywriter acara kuis bulanan ini. Tapi apa daya? Otak tidak berarti uang, dan uang ada di acara yang tidak pakai otak.
Jujur saja, saya bangga dengan pekerjaan ini. Satu episode berarti satu hari penuh syuting, itu juga masih ada enam hari lain. Satu kali siaran langsung talk-show tengah malam, saya masih punya seluruh pagi dan siang untuk diri saya. Sisa lima setengah hari. Seluruh jadwal pemotretan majalah paling lama cuma perlu waktu tujuh jam. Sisa lima hari. Seluruh biaya kerja dua hari dalam seminggu itu jauh melampaui apa yang Bapak bisa dapatkan dalam setahun.
Ketika saya sudah merasa hidup lebih dari cukup, maka saya bisa berkata kepada diri sendiri bahwa saya tidak perlu apa-apa lagi, karena yang saya butuhkan adalah siapa. Bukan siapa yang mendampingi saya saat ini atau nanti, tapi saya butuh kepastian akan siapa saya sebenarnya, dibalik tebalnya lapisan kulit muka hasil operasi plastik bulan lalu. Sudah ratusan orang menyajikan hipotesa mereka ketika saya mendekap bahu sambil mengecup punggung mereka, tapi saya memilih tidak mendengar, karena saya sibuk menjelajah balutan kulit dan tulang bergejolak itu.
Lalu lintas manusia-manusia sesaat yang tidak pernah saya tampik kehadirannya, karena saya tidak bisa hidup tanpa mereka. Atau paling tidak, dengan kata-kata manis mereka yang mengembalikan derajat saya yang harus diobral di saat lampu-lampu spotlight menerkam saya dua kali seminggu.
Mungkin saya tidak perlu tahu siapa saya sebenarnya. Mungkin hanya Bapak yang tahu, dan hebatnya dia bawa sampai ke peristirahatan terakhirnya di petak tanah liat. Mungkin waktu itu Bapak terlampau sakit dengan segala perhatian saya yang tidak pernah dia dapat ketika dia bernafas. Mungkin sekarang saya harus hidup dengan identitas yang saya mau.
Nama saya Artu, dan inilah hidup.

4 Comments:
artuuu.. artuuuuu... mengapa kamu rela melacuuuuurrr....
karena artu butuh arta (jawa: uang)
*bingung sambil menjedug2kan mouse ke kepala*
aku kira kali ini cara bermainnya mulai mengarah ke gaya novel rencana kita. ternyata jadi gaya bebas merdeka toh? hurhuruhrur
Een reactie posten
<< Home