Saya Tak Pernah Pergi - 5
- DI WARNET -
“Malem, mas Artu. Baru pulang syuting ya? Keliatan lesu gitu. Pasti belum makan juga ‘kan?! Makan dulu aja mas di warung Bu Yayuk. Nanti saya panggil deh kalo ada yang kosong ya.”
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum, tak mampu berkata apa-apa. Si Jawir ini memang selalu ramah dengan semua orang, tak peduli mereka siapa. Kecuali anak-anak sekolah swasta sebelah yang selalu ramai menyerbu warnet nya di siang hari, yang ketika ditagih hutang pembayaran selalu bilang lupa.
Biarpun begitu, si Jawir tidak pernah benar-benar marah dengan mereka. Si Jawir tahu, mereka butuh hiburan setelah stress berkutat dengan pelajaran di kelas. Kadang si Jawir juga membiarkan mereka mengambil makanan dan minuman sendiri, asal warnet tetap rapi dan bersih. Si Jawir tidak pernah perduli berapa jam mereka duduk di depan komputer. Walaupun begitu, si Jawir juga suka mengingatkan mereka supaya lekas pulang bila azan Maghrib akan berkumandang.
Tapi akhir-akhir ini ada sedikit yang berbeda dari si Jawir. Rambut panjangnya yang dulu berantakan, sekarang rapi terkuncir. Brewoknya yang sering membuat pengunjung warnet takut, sekarang sudah licin dan klimis. Tak jarang saya menggodanya kalau dia terlihat manis.
“Ah, mas Artu bisa aja!”
Sambil terkekeh, dia tidak pernah menganggap serius godaanku. Yang dia anggap serius adalah setiap perkataan dari seorang gadis yang akhir-akhir ini sering datang ke warnet ini, dan duduk di meja langgananku. Kalau saja waktu itu tidak kulihat muka si Jawir yang mendadak ceria ketika si gadis datang, pasti sudah kudamprat habis-habisan si perempuan tak tahu sopan santun itu. Apa dia tidak tahu kalau meja itu sudah sekian tahun dikenal sebagai meja-Artu?
Tapi biarlah. Yang penting si Jawir sekarang hidup tenang tanpa masalah. Yang penting si Jawir sekarang terlihat bahagia. Yang penting si Jawir sekarang sudah bisa melupakan keadaannya sekarang. Yang penting si Jawir tidak pernah lagi mempertanyakan soal kenapa saya selalu memberinya uang ekstra. Yang penting si Jawir tidak pernah tahu bahwa saya tahu banyak tentang kehidupannya. Yang penting ...
“Lho mas, disuruh makan koq malah ngelamun? Ya udah, itu mejanya mas Artu dah aku beresin. Tinggal nunggu komputernya di-restart”.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum lagi. Entah sampai kapan aku bisa tersenyum dengan si Jawir seperti malam ini. Entahlah...
“Malem, mas Artu. Baru pulang syuting ya? Keliatan lesu gitu. Pasti belum makan juga ‘kan?! Makan dulu aja mas di warung Bu Yayuk. Nanti saya panggil deh kalo ada yang kosong ya.”
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum, tak mampu berkata apa-apa. Si Jawir ini memang selalu ramah dengan semua orang, tak peduli mereka siapa. Kecuali anak-anak sekolah swasta sebelah yang selalu ramai menyerbu warnet nya di siang hari, yang ketika ditagih hutang pembayaran selalu bilang lupa.
Biarpun begitu, si Jawir tidak pernah benar-benar marah dengan mereka. Si Jawir tahu, mereka butuh hiburan setelah stress berkutat dengan pelajaran di kelas. Kadang si Jawir juga membiarkan mereka mengambil makanan dan minuman sendiri, asal warnet tetap rapi dan bersih. Si Jawir tidak pernah perduli berapa jam mereka duduk di depan komputer. Walaupun begitu, si Jawir juga suka mengingatkan mereka supaya lekas pulang bila azan Maghrib akan berkumandang.
Tapi akhir-akhir ini ada sedikit yang berbeda dari si Jawir. Rambut panjangnya yang dulu berantakan, sekarang rapi terkuncir. Brewoknya yang sering membuat pengunjung warnet takut, sekarang sudah licin dan klimis. Tak jarang saya menggodanya kalau dia terlihat manis.
“Ah, mas Artu bisa aja!”
Sambil terkekeh, dia tidak pernah menganggap serius godaanku. Yang dia anggap serius adalah setiap perkataan dari seorang gadis yang akhir-akhir ini sering datang ke warnet ini, dan duduk di meja langgananku. Kalau saja waktu itu tidak kulihat muka si Jawir yang mendadak ceria ketika si gadis datang, pasti sudah kudamprat habis-habisan si perempuan tak tahu sopan santun itu. Apa dia tidak tahu kalau meja itu sudah sekian tahun dikenal sebagai meja-Artu?
Tapi biarlah. Yang penting si Jawir sekarang hidup tenang tanpa masalah. Yang penting si Jawir sekarang terlihat bahagia. Yang penting si Jawir sekarang sudah bisa melupakan keadaannya sekarang. Yang penting si Jawir tidak pernah lagi mempertanyakan soal kenapa saya selalu memberinya uang ekstra. Yang penting si Jawir tidak pernah tahu bahwa saya tahu banyak tentang kehidupannya. Yang penting ...
“Lho mas, disuruh makan koq malah ngelamun? Ya udah, itu mejanya mas Artu dah aku beresin. Tinggal nunggu komputernya di-restart”.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum lagi. Entah sampai kapan aku bisa tersenyum dengan si Jawir seperti malam ini. Entahlah...

2 Comments:
Ayo tuh kalian yg transkripnya jelek buru2 telpon nomer diatas....hurhurhurhuhhu....VERIFIABLE loeh!!!
Anyway, gue juga punya temen yg sering ke warnet...jangan2 karena punya kisah si jawir sendiri yah? *wink2*
wooowww!
get an unexplained feeling of joy!
apakah itu? mari kita telpon nomer telpon di atas itu, dan dapatkan that unexplained feeling of joy, wekekekekek :D
Een reactie posten
<< Home