Perwujudan maya dari sebuah komunitas nyata, yang ingin menelusur keindahan dunia melalui karya budayanya.

februari 28, 2005

Fong Seng, 28 Februari 2005

Tulisan ini merupakan cuplikan-cuplikan dari pem-fongseng-an diri 4 Komangers hari ini, sekalian merayakan/menandai hari H-1 rekan Ite yang akan memulai pekerjaan baru.

Kasus Ite
Besok akan memulai hari pertama dikantor baru
Reaksi Mpal & IU terhadap kasus Ite
......*hening*.....
Reaksi Chay terhadap kasus Ite
"Kira-kira berapa lama bertahan, Te?"
Reaksi Chay terhadap reaksi Mpal & IU terhadap kasus Ite
"Halllahhh!!! Kalian diem-diem dalam hati juga mau nanya yg sama!!"

Kasus IU
Datang dengan tampang kusut masai tidak bergairah, seharian bertarung dengan angka-angka dan data-data ngga jelas. Akhirnya melakukan kegiatan bekerja selayaknya, pertama dalam 3 bulan.
Reaksi Chay + Mpal + Ite
"Gile... muke loe kaya mau mati."
Reaksi IU terhadap reaksi Chay + Mpal + Ite terhadap kasus IU
.....*maem dengan hikmad*.....

Kasus Mpal
Minder terhadap pasangannya yang berbahagia sudah berada pada dunia yang tepat. Merasa tidak seimbang dalam sesi curhat mengenai pekerjaan. Takut pasangannya merasa dibebani oleh keluh kesah mengenai pekerjaannya yang tiada habis.
Reaksi IU terhadap kasus Mpal
"Mpal, orang yang berbahagia akan lebih bahagia ketika dia tau ada orang yang menderita. "
Reaksi Chay terhadap reaksi IU terhadap kasus Mpal
"Kkaukkuauka.... diem-diem sekali komen langsung mengena!"
Reaksi Ite terhadap reaksi IU terhadap kasus Mpal
"Eh... tadi gimana? Orang lebih bahagia kalo gimana? Gimana?"

Sekali lagi kasus Mpal
Mengambil hikmah dan berpikir positif dari pekerjaan dan keadaan yang membosankan/menyebalkan. Bahwa kesesakan ini adalah Belajar.
Reaksi IU terhadap kasus Mpal yang kedua
"Tapi ingat Mpal. Katanya Belajar itu seumur hidup."
Reaksi Chay & Ite terhadap reaksi IU terhadap kasus Mpal
"Kkekekeke... poin yang bagus. "


Tidak ada kasus : Chay
Datang dengan Hepi-hepi joy-joy. Bekerja 8 jam sehari, menghasilkan 2 email. Ngotot jadi moderator, berharap gilirannya menghosting acara Komang berikut di skip.
Reaksi Ite + Mpal + IU
Tidak ada kasus, tidak ada reaksi.
Kesimpulan
Chay masih akan tetap bertugas menghosting acara Komang berikutnya.

Jeritan Liar

Aku ingin membunuh sakit ini. Sebuah rasa yang aku sendiri tidak tahu. Definisi, arti, penjelasan. Aku merasa sakit. Sakit yang suram. Tidak membunuh, tapi menyiksa. Berat membebani, jiwa yang ringan. Yang terbiasa terbang bebas, melompati ruang melewati waktu.

Kapan, kataku, kapan aku bisa mengikis. Mengikis sesuatu yang tak terkikis. Sesuatu yang tak terkikis yang mengikis jiwaku.

Aku ingin menangis, wahai jeritan liar. Tapi air mata terbunuh kepedihan. Dan kata-kata tertelan duka. Bahkan perawan dimalam kedewasaannya tak merasa seperih ini. Atau ini hanya aku, bagian kusam dari dunia kelam?

Jangan, jangan mati jiwaku yang meronta. Kita berjuang menepis gelap. Biar sakit ini terbuang, memunah, berkabung, kehilangan bentuknya.

Dan kau kesunyian, diamlah! Jangan kau ributi aku dengan sepimu yang pekat. Menelan segala hasrat menghambat seluruh kehidupan.

Dan gairah, dimana kau? Pegang tanganku, rengkuh hatiku, kecup tubuhku. Biar kehidupan menggeliat bebas menentukan kasihnya. Biar hangat menggantikan api dan embun menghilangkan beku. Biar penghianat itu keluar dari pengikut suci.

Ahhhh..... Sudahlah raga, sudah, aku mengaku pasrah. Bersatulah kau dengan penat, dari pada lelah ingin membunuhnya.


6 September 2002

Dibacakan pertama kali di Komang Perdana

februari 13, 2005

Saat itu...

Saat itu...

Aku ingin segalanya berhenti...
Kalau boleh aku mengajukan petisi...
Pada Sang Ilahi...
Detik ini… cukup detik ini...
Biarlah semesta berhenti...

Biar kurekam segala wajah berseri,
Riuk redam dan segala puja-puji,
Biarlah aku menjelma seorang Dewi,
Sekali lagi... hanya untuk detik ini...

Dan aku bukan lagi aku...
Aku adalah engkau, dia, kita, mereka...
Aku menjelma, aku bukan manusia...
Aku berkuasa menjadi siapa saja...
Aku... Mahadewa...

Dan tempat ini bukan lagi panggung yang berdiri...
Ini duniaku sendiri...
Di mana aku tak perlu lagi basa-basi...
Ini hanya aku… diriku sendiri...

Aku tak ingin kembali...
Sungguh tak ingin kembali...

Kalau boleh aku mengajukan petisi...
Pada Sang Ilahi...
Biar aku hidup di sini...

Abadi...

13 February’05-teruntuk Perdana juga... .

TeRunTuk PerDana...

Bagimu:
Tawaku…
Senyumku…
Rinduku…

Bagiku:
Tangismu…
Isakmu…
Bencimu…

Untukmu:
Anganku…
Mimpiku…
Khayalku…

Untukku:
Resahmu…
Limbungmu…
Takutmu…

Padamu:
Kasihku….
Cintaku…

Padaku:
Angkaramu…
Murkamu…

Tawaku tersimpan dalam tangismu,
Senyumku menjelma isakmu,
Rinduku mencipta bencimu…

Resahmu memburu anganku,
Limbungmu membuyarkan mimpiku,
Takutmu memporak-porandakan khayalku…

Angkaramu merindu kasihku…
Kasihku mendendam angkaramu…
Murkamu adalah nafas cintaku…
Cintaku membunuh murkamu…

Saat kutertawa dan saat kumenangis…
Saat kuterisak dan saat kutersenyum…
Saat kumerindu dan saat kumembenci…

Hanya bagimu…
Untukmu…
Padamu….

Selalu….

-Ite-
13 February 2005 : 1.52 am
~ teruntuk PerDaNa…

februari 06, 2005

Taman Kota Sebagai Saksi Perdana



Taman kota memiliki banyak rupa dan guna. Taman kota adalah sebuah tempat pelarian dari rutinitas, di mana sepoi anginnya terasa menyejukkan, padahal sepoi yang sama di sejengkalan keluar batas taman bisa terasa menyesakkan dan padat. Taman kota juga tempat penyucian mata yang senantiasa dipupur debu dan asap dari mesin dan peralatan urban lainnya.

Dan di taman kotalah kami berempat, hari ini, menyapukan diri di atas rumput, berdialog tentang momen terbaik dan terburuk dalam hidup, sekaligus mengawali terwujudnya seluruh cita-cita perjumpaan semacam ini.

Seseorang memulai dalam nyanyian dan puisi.

Seseorang bernarasi dengan tutur bermakna.

Seseorang bereksperimen dengan menerawang pada alam.

Seseorang lagi berekspresi dalam meditasi dan dendang kata.

Di taman ini, tiada hasil tercatat. Tiada adegan terekam. Tapi memori tentangnya telah tersimpan di hati kami masing-masing. Terlebih penting, di taman ini akhirnya bola telah bergulir, memulai jelajahannya merambah angan dan imajinasi para penggulirnya.