Perwujudan maya dari sebuah komunitas nyata, yang ingin menelusur keindahan dunia melalui karya budayanya.

juli 12, 2005

Artu

Part II - The Hand that Rocks the Cradle

Episode Pagi

5 menit. Kita lihat apa yang bisa terjadi dalam hitungan waktu 5 kali 60 detik ini, karena inilah waktu yang bisa kuberikan saat ini.

Dalam 5 menit, biasanya kamu akan melihat transformasi wujud aku sang penghalau pagi berubah menjadi manusia penuh rutinitas: menyibakkan quilt, menghalau dering weker, menepis kibasan air memercikkan muka, mengkonsumsi substansi perusak sistem lambung. Hmmm … Butuh berapa lama seorang Clark Kent untuk pakai celana spandex?

1 menit.

30 detik.

Ternyata pemikiran selama satu menit tidak menghasilkan banyak hasil. Yang penting proses, ini adalah sebuah awal yang belum tentu jelas juntrungannya.

Episode Senja

Berderap langkah tegap kaki kiri kanan dalam detak irama yang mengayun udara agar dua kaki terus bergerak. Sedikit tengadah dan terdongak kepala ke arah hembusan udara yang keluar dari pori-pori bulu halus dalam hidung untuk menambah partikel dalam satuan atmosfir tanggung. Ia tidak terik dan tidak menggigilkan. Boleh dibilang menyejukkan, apalagi menyingkirkan konsentrasi penuh dalam hitungan rutinitas.

Bingung? Silakan. Kabar-kabari kalau sudah mengerti.

Tapi tunggu. Bukankah kamu juga yang menjuruskan diri sendiri pada kini?

Episode Malam

“Turns out kalo selama ini kita bayar mahal buat dikenal”
“Kita? Elo kali…”
“Heeelllooooo, please!”
“Alritey, tapi semua itu self-fulfilling dear, it happens that I see myself comfortably in them”
“And when you have to withdraw yourself from it, the comfort will be gone?”
“Rugi bandar!”

Will you just bear with me? Let me have it for a little longer.

juli 10, 2005

Artu.

Part I : Manhattan, At the Last Drop

Tik tuk tik tuk tik tuk …
Begitu bunyi detak waktu alat pacu jantung bernama telepon genggam pengganti nyawaku.

Tik tuk tik tuk tik tuk … Buzz!
Mungkin lebih baik dia diam malam ini dari segala intrusi.

“Another one?”
“Shoot!”

Langit masih menyembulkan sirat gemulai kekuningan, pertanda senja baru sejenak beranjak. Toh aku sudah disini dalam keremangan cahaya buatan. Dan bukan berarti aku dalam pelarian, tapi inilah yang terjadi.

Katakanlah tipikal manusia urban pencari kesenangan sesaat, atau pekerja pelacuran pencari nafkah dalam kesumpekan dunia, tapi inilah aku. Namaku Artu. Dimulai dari huruf A yang membuat namaku tak pernah jatuh dibawah angka sepuluh dalam daftar absen kelas, dan Artu, karena pembuatku adalah jemaat setia budaya pop populer. Ah, jangan keburu menyimpulkan dulu umurku, ingat bahwa Episode VI Star Wars dibuat dalam jangka waktu yang cukup signifikan dari Episode IV. Yang jelas, aku tak semuda itu, cukuplah aku punya usia yang memungkinkan aku terdampar disini.

“Hey, you OK?!”
“Splendid”
“Cool”
“Thanks”

Basa-basi. Jangan tanya sudah berapa lama aku lupa menjadi jujur dalam berterima kasih, sedikit tarikan senyuman disertai mata berbinar sudah cukup menyiratkan ketulusan itu. Tapi disini?

Atas dasar keinginan yang selalu menggelegak dalam hal pemenuhan kepuasan diri, dalam bentuk apapun itu, tindak tanduk yang kusebut tadi sudah terenyahkan jauh-jauh. Refleks saja, tanpa tahu penyebabnya atau mengapa bias terjadi. Sungguh pengulangan yang tak berarti.

Jangan bosan dulu,itu tadi hanya selingan waktu.

Seperti yang kamu lihat, disini aku menjadi tak terlihat dan tak bernyawa. Aku suka. Tenggelam dalam keremangan buatan manusia yang menyala setiap harinya ini, pelipur lara bagi jiwa yang bergejolak.
Hahahahaha! Silakan tertawa mendengar aku berkata, aku juga bingung kenapa kata-kata itu terucap. Kau piker penghuni tempat ini adalah pencari substansi batiniah jangka pendek? Penambah jumlah HDL dalam darah? Zat peracun jaringan syaraf pemakan kekakuan?

Ngga apa-apa koq. Aku bukan tukang ramal pembaca pikiran manusia yang menjual diri dengan menulis kolom zodiak. Aku bukan jatidiri yang dilengkapi dengan indera keberapa pun itu yang dianggap sebagai pemacu penghasil ketepatan tebakan. Aku narsis, itu saja.

“Yo!”
“What’s up?”
“Full”
“Gotcha!”

Kalau kau pikir kenapa arah tuturanku tak teratur cenderung melantur, singkirkan pikiran bahwa cairan pengisi lambung pembuat semua itu. Inilah aku. Inilah mulainya. Catat saja bahwa Artu, manusia senja pengisi malam penghirup udara siang penepis cahaya pagi adalah sosok hidup penikmat candu dan madu. Segala jenis.

“Another Manhattan?”
“Wait till last drop”

Where shall I begin?

juli 04, 2005

Lama mati

Sebetulnya aku sudah mati
Lama mati
Ketika kujual jiwa ini untuk keadaan
Untuk tuntutan
Kepastian
Kenyamanan

Sebetulnya aku sudah mati
Lama mati
Dengan bangkai terduduk membusuk dikotak kecil
Dengan wajah tak berbeda dengan jutaan zombie lainnya
Dengan kehampaan nafsu yang tak lagi berbentuk

SEBETULNYA AKU SUDAH MATI!
LAMA MATI!
LAMA MATI!
LAMA
MATI